AKAL DALAM AL QUR’AN

Oleh : Ali Zainal Abidin

Akal menurut tinjauan Al Qur’an

Menurut tinjauan Al Qur’an akal adalah Hujjah atau dengan kata lain merupakan anugerah Allah SWT. Yang cukup hebat denannya manusia dibedakan dari mahluk lain. Akal juga merupakan alat yang dapat menyampaikan kebenaran dan sekaligus sebagai pembukti dan pembeda antara yang haq dan yang bathil, serta apa yang ditemukannya dapat dipastikan kebenarannya, asal saja persyaratan-persyaratan fungsi kerjanya dijaga dan tidak diabaikan.

Untuk lebih jelasnya marilah kita perhatikan dalil-dalil dari Al Qur’an sebagai bukti dari ucapan di atas :

1. Al Qur’an mengajak manusia untuk berfikir sebagaimana disebutan di dalam surat Al Anfal ayat 22 dan surat Yunus ayat 100, yang artinya : ” Sesungguhnya binatang (Makhluq) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli”(Surat Al Anfal :22), kemudian ” Dan tidak seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah melimpahkan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya” (Yunus : 100),

2. Mengambil manfaat atau kesimpulan sebab akibat (kausalitas) yang mana hukum sebab akibat itu harus didasari dengan pemikiran, lihat surat Ar Ra’d :11 artinya : “Bagi manusia ada Malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran di Muka dan belakangnya mereka menjaganya atas perintah Allah sesungguhnya Allah tak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung dari mereka selain Dia” (Ar Ra’d : 11)

3. Al Qur’an mengajak kaum muslimin untuk mempelajari sejarah ummat-ummat terdahulu dan mengambil suatu pelajaran darinya serta merenungkan nasib yang menimpa mereka. Hal ini menunjukan pengertian yang jelas bahwa nasib yang menimpa mereka itu mempunyai hukum sebab akibat dan tidak terjadi secara kebetulan. Kalau tidak demikian maka perintah Allah itu tidak tidak ada manfaatnya. Artinya : “Sudah berapa banyak kota yang Kami binasakan, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan berapa banyak pula sumur yang telah ditinggalkannya dan istana yang tinggi ” (surat Al Hajj: 45), artinya : “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat memahami atau dapat mendengar ? Karena dengan sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta itu adalah hati yang di dalamnya dada” ( Surat 22: 46)

4. Falsafah dan penjelasan hukum-hukum berdasarkan pemikiran yang banyak terdapat di dalam Al Qur’an menunjukkan bahwa akal itu adal;ah Hujjah, lihat surat Al Ankabut ayat : 45 dan surat Al Baqoroh ayat 183 yang artinya : “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alkitab dan dirikanlah Sholat, sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain) Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” ( 29:45). Artinya: ” Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (2:183)

5. Ada 5 Faktor yang disebutkan Al Qur’an yang dapat memperkecil kesalahan kerja akal dalam menjalankan fungsinya antara lain :
5.1. Lebih mengutamakan Dhon (dugaan) daripada hal-hal yang pasti lihat surat Al An’am ayat 116 yang artinya : “Dan jika menuruti orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan belaka, dan mereka hanyalah berdusta (terhadap Allah)” Kemudian lihat surat 17 ayat 36 yang artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya “.
5.2. Mengikuti jejak nenek moyang, lalu menerima segala yang klasik tanpa disertai pembuktian. Lihat surat Al Baqoroh :170 yang artinya : “Dan apabila dikatakan kepada mereka : Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab : (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapat dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun. Dan tidak dapat petunjuk ?” jika apa yang dianut dan yang diyakini nenek moyang dapat dibuktikan kebenarannya berdasarkan pembuktian-pembuktian secara rasional yang wajar, maka Al Qur’an akan membenarkan hal itu dapat dilihat pada surat Yusuf ayat 38 yang artinya : ” Dan aku mengikuti agama-agama Bapakku Ibrohim, Ishak, Ya’kub tiadalah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah karunia Allah kepada kami Manusia (seluruhnya) tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri-Nya.”
5.3. Mengikuti dorongan hawa nafsu lihat surat An-Najm : 23 yang artinya adalah :” Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya; Alah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk menyembahNya. Mereka hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka. Dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka” (A-Najm : 23) lihat juga surat Al An’am :119, surat Muhammad Ayat : 14,16. Suarat Rum :29 dan surat Al Qosshos : 50.
5.4. Terpengaruh figur-figur tertentu tanpa pembuktian status figur itu apakah dia pantas dipanuti (ditaati) atau tidak Lihat surat Al Ahzab : 67 artinya : ” Dan mereka berkata : Ya Tuhan kami sesnguhnya kami telah mentaati pemimpin-peimpin dan pembesar-pembesarkami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”
5.5. Tergesa-gesa dalam membenarkan atau mengingkari sesuatu tanpa dibuktikan terlebih dahulu, termasuk suatu hal yang tidak tidak dibenarkan oleh Islam. Surat Al A’af : 169 yang artinya : “…yaitu baqhwa mereka tidak akan menagatakan terhadap Allah kecuali yang benar….Maksudnya : janganlah menyimpulkan bahwa sesuatu itu benar dari Allah padahal belum dibuktikan kebenarannya”. Tergesa-gesa dalam mengingkari sesuatu, lihat surat Yunus :39 artinya :” Yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya, demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul ). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu”.

Ruang lingkup Kerja Akal Menurut Al Qur’an

Kalau keterangan di atas sudah kita pahami bahwa akal dalam menjalankan proses kerjanya. Al Qur’an menyebutkan ada 5 sebab yang dapat mengakibatkan gagalnya seseorang dalam mencari dan membuktikan sutau kebenaran yaitu segala sesuatu yang datannya dari Allah berupa ciptaan-ciptaannya dan para Nabi,Rosul serta Imam yang di utusNya, ajaran-ajaran yang dibawa oleh para Rasul dan Imam. Di bawah ini akan kita lihat Bagaimana Al Qur’an menunjukkan Objek-objek harian yang dapat membawa manusia kepada titik terang yang pasti yaitu Iman. Adapun objek-objek yang ditunjukkan oleh Al Qur’an itu adalah :

Alam dengan segala Fenomenanya
Melalui jalan eksperimen dan observasi (Taribah wal mulahadhoh) manusia dapat mengenal sang Pencipta atau istilah lain berpindah dari menyaksikan alam Syuhud (Fisik atau nyata) 1hingga dapat membuktikan keberadaan dzat yang ghaib yaitu Allah. Lihat dalam surat Yunus : 101. Artinya : “Katakanlah ! Perhatikanlah apa yang ada di langit dan yang di Bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Pengkajian Sejarah
Dengan melihat peristiwa-peristiwa yang lalu kita dapat mengambil pelajaran berupa akibat dari orang-orang yang mendustakan Rasul-rasul. Lihat surat Ali Imron ayat 137. “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah Allah (yang dimaksud disini adalah hukum-hukum Allah yang berupa malapetaka, bencana yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan Rasul). Karena itu berjalanlah kamu di Muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul)”

Jiwa (nafsu) Manusia
Merenungkan diri sendiri adalah jalan yang cukup menjamin dapat mengantarkan manusia mengenal pencipta-Nya dengan kata lain apabila manusia mengenal dirinya sendiri pasti ia akan mengenal TuhanNya. Lihat surat Fushilat ayat 53 artinya :” Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala penjuru dan pada diri mereka sendiri. Sehingtga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s