Berpikir terbalik

Kenalkah Anda dengan Edgar Rubin? Mungkin tidak. Tetapi jika ditunjukkan kepada Anda sebuah gambar yang tampak sebagai “vas” dan pada saat yang sama dapat dilihat sebagai “dua wajah yang berhadapan” (Anda dapat membayangkannya?), barangkali Anda segera merasa akrab. Rubinlah si pencipta gambar yang dapat dilihat dalam dua perspektif ini.

Gambar yang dibuat oleh Rubin pada 1915 itu menyiratkan apa yang disebut metode pembalikan. Saat menemui sebuah persoalan, orang menggunakan sudut pandang tertentu untuk memperoleh pemahaman. Jika ia sekaligus memakai sudut pandang yang berlawanan, ia niscaya dapat menemukan pemahaman yang lebih kaya.

Dr. Albert Rothenberg, peneliti proses kreatif, menjelaskan proses tersebut sebagai “pemikiran Janusian”. Istilah ini mengambil nama dewa Romawi, Janus, yang memiliki dua wajah yang menghadap ke arah berlawanan. Rothenberg menunjukkan jejak pemikiran Janusian dalam karya Einstein, Mozart, Picasso, dan Conrad.

Ingin mencoba cara berpikir Janusian? Begini: ajukan pertanyaan “Apa lawan dari ini?” Lalu cobalah membayangkan kedua hal berlawanan itu ada pada saat bersamaan.

Michael Michalko, dalam bukunya Thinker Toys, memberi contoh konkret penerapan cara berpikir Janusian pada praktek pertanian. Pertanyaannya: Mungkinkah membajak tanah pada malam hari, bukan pada siang hari? Peter Juroszek dan rekan-rekannya di Universitas Bonn, Jerman, menemukan bahwa petak tanah yang dibajak pada malam hari dapat mengurangi pertumbuhan rumput hingga lima kali dibandingkan dengan pembajakan pada siang hari. Sebabnya, kebanyakan biji rumput membutuhkan kurang dari satu milidetik cahaya untuk mulai bertuna, sedangkan biji kebanyakan tanaman dapat tumbuh dalam kegelapan.

Cara berpikir Janusian merupakan cara kreatif dalam memecahkan suatu masalah. Bila Anda mencoba mempraktekkannya, Anda akan mengetahui betapa makin kaya pemahaman kita atas masalah itu. Mungkin saja kita menemukan hal-hal yang bakal terlewatkan bila kita memakai satu sudut pandang. Anda mungkin menemukan segi-segi yang tak terduga. Dengan berpikir pula dari sisi sebaliknya, bisa jadi kita mendapatkan jalan keluar yang lebih tepat.

Yang seringkali terjadi ialah kita bersikukuh bahwa sudut pandang tertentu itu yang paling tepat tanpa mencoba terlebih dulu sudut pandang lain, apa lagi yang berseberangan. Padahal, sebelum suatu keputusan diambil, kita semestinya membebaskan diri untuk melihat suatu persoalan dari sudut manapun. Bukan sebaliknya, justru memenjarakan diri dalam satu perspektif saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s