Rimal_Rimaru

Senang berbagi informasi

TERM OF REFERENCE ( TOR ) LKA ANGKATAN XVII HUMANIS FISIP UNHAS

Latihan Kepemimpinan Administrasi Angkatan XVII

Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi

HUMANIS FISIP UNHAS

  

BAB I

PENDAHULUAN

 1.1 DASAR PEMIKIRAN TOR

 Mahasiswa sebagai kekuatan yang sangat signifikan dalam tubuh bangsa ini masih belum maksimal terberdayakan. Ibarat terlelap dalam tidur panjang dan dibutuhkan usaha untuk membangunkan potensi yang ada pada diri mahasiswa tersebut, sehingga tidak terkesan mahasiswa seperti the sleeping giant (raksasa tidur) yang tidak mampu memberikan kontribusi banyak terhadap bangsa yang sedang diselimuti berbagai macam persoalan. Bangsa ini dikepung oleh krisis diberbagai bidang, mulai dari sektor ekonomi bahkan sampai ketingkat krisis moralitas, supremasi hukum hingga persoalan kebobrokan kepemimpinan. Krisis yang melanda bangsa ini bukan untuk disesali atau hanya diratapi, tetapi perlu dicarikan solusi terbaik dan cepat tanpa menuding siapa yang salah dan siapa yang benar. Dan yang kita cemaskan lagi mengapa bangsa ini tidak belajar untuk bisa mengatasi krisis? Bukankah negara-negara maju seperti Jepang juga pernah mengalami krisis berkepanjangan, tetapi mereka mampu dengan cepat keluar dari permasalahan-permasalahan yang ada dengan memberdayakan potensi yang ada sampai mengantarkan negara tersebut kepada kejayaan seperti sekarang ini.

Dengan demikian terjadi kondisi yang saling berpunggungan antara idealisme dan realitas yang ada serta kebijakan yang diterapkan kepada mahasiswa. Politik katak dalam tempurung telah berhasil menempatkan sebagian besar mahasiswa ke dalam kehidupan yang selalu khawatir terhadap sikap kritis yang miliknya sendiri dan menyimpannya di laci-laci sejarah. Berbagai kebijakan yang terus dikakukan akademis di kampus cenderung melakukan aborsi terhadap kelahiran kritisme mahasiswa (diusahakan tak pernah lahir).

Mahasiswa kemudian hidup dalam tumpukan mitos dan lebih ditempatkan sebagai spektator (penonton) ketimbang sebagai aktor. Sangat ironis kebijakan katak dalam tempurung dalam kondisi seperti sekarang. Ekstrimitas pandangan yang ditimpakan terhadap gerakan mahasiswa hanya akan melahirkan resitensi yang semakin terakumulasi seiring dengan makin banyaknya persoalan-persoalan sosial yang muncul. Kesadaran politik mahasiswa yang akhir-akhir ini sangat menonjol selalu dilihat oleh negara sebagai produk luar dan belum ditempatkan dalam suatu hubungan kausal antara relasinya dengan kebijakan terhadap mereka. Argumen-argemen generik  semacam ditunggangi atau digerakkan oleh pihak ketiga terus diproduksi untuk mengharamkan kritik maupun aksi yang muncul. Sedangkan siapa pihak ketiga yang dimaksud tetap menjadi rahasia politik yang tak pernah terungkap. Hal yang sama terjadi dalam penyebutan organisasi tanpa bentuk yang menjadi imajinasi politik negara yang sangat populer. Argumen generik di atas, selain cenderung mencerminkan sikap tidak percaya pada kesadaran politik mahasiswa juga semakin membuktikan bahwa penafsiran segala hal yang dilakukan oleh kekuatan diluar negara adalah ilegal. Pada akhirnya semakin jelas bahwa argumen tersebut hanya untuk kebutuhan justifikasi bagi proses pelipatgandaan kekuatan untuk mengontrol kehidupan mahasiswa dan masyarakat.

Pada prinsipnya setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi ini adalah memiliki kodrat sebagai pemimpin dengan bermodalkan potensi unik yang telah diberikan oleh yang Maha Kuasa. Apalagi dengan menyandang status sebagai mahasiswa yang merupakan tonggak utama dalam elemen masyarakat, sebagai pembawa perubahan serta sebagai kekuatan controling social yang sudah barang tentu memiliki potensi sebagai pemimpin sejati. Namun sangat disayangkan, tanpa disadari satu persatu potensi-potensi tersebut hilang karena mahasiswa sendiri tidak mampu mengoptimalkannya. Mahasiswa menjadi pribadi yang mandul, pesimis dan takut untuk melakukan perubahan-perubahan, tidak percaya diri, bahkan tidak berani untuk menatap ke depan. Ini muncul dikarenakan hambatan, tantangan, ancaman, ketakutan dan ketidakberdayaan yang menghijab potensi-potensi mahasiswa itu sendiri. Melihat realitas yang ada, tidak semua mahasiswa berada dalam lingkungan dan situasi yang kondusif sehingga senantiasa dalam keadaan termotivasi untuk mengoptimalkan potensi-potensi yang dimilikinya. Sebagian mahasiswa terjebak dalam kondisi dan situasi yang negatif, yang membelenggu dan memenjarakan potensi yang dimiliki, sehingga muncullah berbagai penghalang pada setiap langkah yang terayun. Akibatnya sebagian mahasiswa terpenjara dengan potensi-potensi itu sendiri, bahkan yang lebih menyakitkan mahasiswa dihadapkan pada situasi untuk menjadi manusia yang kerdil dengan perubahan-perubahan, lemah dalam kepemimpinan, cepat menyerah dengan perubahan zaman yang semakin hari semakin tidak menentu.

Untuk itu, melalui Latihan Kepemimpinan ini yang juga merupakan rangkaian pengaderan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi FISIP UNHAS angkatan XVII, merupakan wadah training yang diharapkan mampu melahirkan cikal bakal pemimpin dimasa depan sebagai sebuah kekuatan yang besar serta untuk menyegarkan dan menggali kembali potensi-potensi yang dimiliki oleh mahasiswa itu sendiri. Sehingga nantinya kegiatan ini akan membekas dan menjadi modal utama bagi mahasiswa untuk menjalankan perannya kembali, sebagai sebuah elemen masyarakat yang punya ambisi untuk melakukan perubahan-perubahan karena memang disadari atau tidak peran mahasiswa adalah agen of change dalam strata masyarakat yang ada, kapan pun dan dimana pun ia berada.

1.2 TUJUAN TOR

Tujuan penyusunan Term Of Reference (TOR) Latihan Kepemimpinan Administrasi Angkatan XVII Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi (HUMANIS FISIP UNHAS) untuk memberikan arah, pedoman dan pegangan bagi pelaksana kebijakan kepanitiaan dalam melaksanakan program Latihan Kepemimpinan Administrasi (LKA angkatan XVII).

1.3 LANDASAN TOR

1. Landasan Ideologis : Pancasila

2. Landasan Kontitusional :

a. Undang-Undang Dasar 1945 (UUD ‘45)

b. UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003 Pasal 3

c. Statuta Universitas Hasanuddin

d. Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga HUMANIS FISIP UH

e.  JUKLAK/JUKNIS HUMANIS FISIP UNHAS

3. Landasan Operasional : Program Kerja Departemen Diklat dan Kaderisasi HUMANIS FISIP  UNHAS

1.4 SISTEMATIKA TOR

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka TOR Latihan Kepemimpinan Administrasi Angkatan XVII HUMANIS FISIP UNHAS disusun dengan sistematika sebagai berikut :

  1. I.      PENDAHULUAN
  2. II.     POLA LATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI ANGKATAN XVII
  3. III.    KURIKULUM LATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI ANGKATAN XVII
  4. IV.    PENUTUP


BAB II

POLA LATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI ANGKATAN XVII

HUMANIS FISIP UNHAS

 

2.1 BATASAN ISTILAH

Dalam rangka memahami pola  LKA Angkatan XVII secara menyeluruh maka perlu dibangun pengertian dalam pola pengkaderan itu sendiri.

  1. Kader adalah anggota yang sedang dan telah melalui proses pengkaderan.
  2. Pengkaderan adalah segala kegiatan yang diarahkan kepada usaha-usaha pembentukan, pembinaan dan pengembangan kader (kaderisasi).
  3. Sistem Pengkaderan LKA Angkatan XVII adalah keseluruhan komponen pengkaderan yang memiliki keterikatan yang dilaksanakan secara sadar, terencana, terarah, terpadu, sistematis dan berkesinambungan.
  4. Manajemen Pengkaderan LKA Angkatan XVII adalah proses pengelolaan Sumber Daya Kader dan Sumber Daya Organisasi secara sistematis dalam upaya pencapaian tujuan organisasi.
  5. Mekanisme Pengkaderan adalah proses yang dilalaui secara bertahap dalam pelaksanaan program pengkaderan salah satunya adalah adanya Latihan Kepemimpinan Administrasi Angkatan XVII.
  6. Metodologi LKA Angkatan XVII adalah cara kerja yang teratur yang diaplikasikan untuk mencapai tujuan tertentu.
  7. Kurikulum LKA Angkatan XVII adalah seperangkat program penunjang yang meliputi materi, muatan materi, dan Tujuan instruksional materi.

2.2 TUJUAN LATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI Angkatan XVII

Pembinaan dan pengembangan (Pengkaderan) HUMANIS FISIP UNHAS bertujuan untuk menumbuhkembangkan potensi maupun skill yang dimiliki oleh anggota HUMANIS FISIP UNHAS khususnya mahasiswa baru Ilmu Administrasi 2011dengan memberikan muatan-muatan intelektual, moral dan keterampilan yang sesuai dengan minat, bakat, kegemaran dan kemampuan menuju ke arah pembentukan kader yang bertakwa kepada Tuhan YME, perluasan wawasan, peningkatan kecendiakawanan, dan integritas kepribadian serta kepekaan sosial.

2.3 FUNGSI LATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI Angkatan XVII

LKA Angkatan XVII memiliki fungsi sebagai motor penggerak organisasi yang mendorong usaha sadar, terencana, terarah, terpadu, sistematis dan berkesinambungan untuk mencapai tujuan organisasi. Secara terinci, fungsi pengkaderan sebagai berikut :

  1. Meningkatkan kualitas organisasi.
  2. Menjaga kesinambungan kepemimpinan roda organisasi HUMANIS FISIP UNHAS.
  3. Menjaga eksistensi HUMANIS FISIP UNHAS sebagai Organisasi Kemahasiswaan.

2.4 AZAS LATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINSTRASI Angkatan XVII

Azas-azas LKA Angkatan XVII yakni prinsip-prinsip yang digunakan dalam pelaksanaan pengkaderan, Azas-azas tersebut yakni :

  1. Azas solidaritas yaitu LKA mampu menjadi wahana dalam mempererat rasa kebersamaan dan persaudaraan antar kader.
  2. Azas tanggung jawab yaitu pengkaderan dapat menumbuhkan tanggung jawab yang tinggi bagi para kader.
  3. Azas disiplin yaitu pengkaderan mampu meberikan kedisiplinan bagi para kader.
  4. Azas pembelajaran yaitu pengkaderan dijadikan sebagai proses pembelajaran bagi para kader dalam menjalani kehidupan baik berorganisasi, berakademik, maupun bermasyarakat.
  5. Azas fleksibel yaitu pengkaderan dapat dilakukan dengan berbagai macam pendekatan yang kreatif dan inovatif selama masih dalam koridor yang sesuai dengan tujuan HUMANIS FISIP UNHAS.

2.5 ARAH PENGKADERAN LATIHAN KEPEMIMPINANADMINISTRASI Angkatan XVII

Latihan Kepemimpinan Administrasi Angkatan XVII HUMANIS FISIP UNHAS diarahkan pada tercapainya suatu karakteristik kader ideal agar dapat turut serta dalam mewujudkan masyrakat yang sejahtera, adil, dan makmur, dengan kulifikasi sebagai berikut:

  1. Memiliki rasa kebersamaan terhadap sesama :
    1. Tidak membeda-bedakan antar sesama manusia
    2. Jujur dan objektif dalam membina kebersamaan
    3. Memiliki Intelektualitas :
      1. Mampu bersikap idealis dalam menyikapi realitas
      2. Mampu berpikir kritis, analitis, dan rasional dalam berwacana dan menghadapi permasalahan.
      3. Memiliki integritas kepribadian
        1. Bersikap rendah hati dalam melakukan interaksi sosial
        2. Memiliki kepekaan intrapersonal (Sense of belonging) dan kepekaan social (Sense of social)
        3. Memiliki wawasan yang luas.
      4. Menjunjung tinggi profesionalisme
        1. mampu menyikapi realitas keilmuannya
        2. mampu mengimplementasikan disiplin ilmunya sebagai instrument dalam pengabdian kepada masyarakat
      5. Berjiwa progresif dan revolusioner
        1. Mampu berpikir kreatif dan inovatif
        2. Tidak terjebak dalam otoritas kemapanan berpikir

2.6 MUATAN PENGKADERAN LATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI Angkatan XVII

1. Muatan Ideologis yaitu nilai-nilai yang menjadi landasan paling fundamental dalam bergerak yakni nilai-nilai kebenaran dan keadilan

2. Muatan Intelektualis dan moral yaitu aspek dalam pembentukan mental kader yang mampu bersikap kritis, rasional, radikal, logis dan objektif.

3. Muatan Organisatoris yaitu bahwa LKA Angkatan XVII mampu memberikan pemahaman mengenai pergerakan para kader sehingga rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap organisasi dapat tercapai.

4. Muatan Profesionalitas yaitu pengetahuan mengenai keilmuan yang dimiliki kader agar dapat bermanfaat secara praktis

2.7 SASARAN LATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI Angkatan XVII

Sasaran pengkaderan adalah mahasiswa Ilmu Administrasi FISIP UNHAS.


BAB III

KURIKULUM LATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI ANGKATAN XVII

HUMANIS FISIP UNHAS

 

3.1 POLA KURIKULUM

Pola Latihan Kepemimpinan Administrasi Angkatan XVII telah ditentukan secara baku bagi sasaran atau peserta LKA. Dalam matriks kurikulum disajikan beberapa hal yang meliputi :

- Materi

- Pokok materi

- Tujuan instruksional (umum dan khusus)

- Metodologi

- Instruktur / pemateri

Yang disusun dalam suatu kesatuan yang terpadu dan terkait dengan tujuan pengkaderan secara menyeluruh.

3.1.1 Materi

3.1.1.1 Klasifikasi materi

a. Kelompok materi profesi keilmuan

b. Kelompok materi kemahasiswaan

c. Kelompok materi keorganisasian

3.1.1.2 Jenis materi

a. Materi wajib / inti

b. Materi Tambahan / muatan local

3.1.1.3. pokok materi

Penjabaran sistematis dari setiap materi dengan tujuan memberikan pemahaman secara menyeluruh tentang isi materi kepada peserta.

3.1.2 Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional merupakan pencapaian hasil akhir yang diinginkan kepada peserta dari setiap materi yang diberikan.

- Tujuan instruksional umum merupakan hasil luaran yang diharapkan dari peserta setelah mengikuti keseluruhan materi.

- Tujuan instruksional khusus merupakan hasil luaran yang diharapkan dari peserta dari setiap pokok materi.

3.1.3 Metodologi

Sistem Latihan Kepemimpinan Adminstrasi Angkatan XVII HUMANIS FISIP UNHASS menerapkan 2 (dua) metodologi umum yakni metode Paedagogi dan metode Andragogi.

3.1.3.1 Metode Paedagogi

Metode paedagogi pada prinsipnya menekankan pada pembentukan, pengisian, penerusan, materi atau bahan yang telah direncanakan secara lebih sepihak dari instruktur atau pemateri kepada peserta. Dalam bahasa umum disebut dengan pendekatan yang menekankan pada proses transformasi ide, pengetahuan, nilai-nilai, pola-pola sikap dan perilaku peserta serta keterampilan (skill) dari instruktur atau pemateri kepada peserta. Metode paedagogi memiliki ciri-ciri antara lain :

-  Bersifat indoktrinisasi

-  Materi yang disajikan berupa paket terencana

-  Peserta adalah penerima materi (pasif)

-  Instruktur/pemateri adalah pemberi materi (aktif)

-  Teknik yang diterapkan lebih sepihak dari pemateri kepada peserta.

Teknik yang diterapkan :

-  Ceramah yaitu metode penyampaian pokok-pokok materi secara sepihak dari pemateri kepada peserta. Pemateri adalah pemberi materi (aktif) dan peserta adalah penerima materi (pasif). ceramah lebih menekankan pada transformasi ide dan pengetahuan dari instruktur/pemateri kepada peserta.

-  Penugasan merupakan metode pengevaluasian materi dari instruktur/pemateri kepada peserta baik secra tertulis maupun lisan untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. penugasan bersifat instruksi atau perintah dari instruktur/pemateri kepada peserta.

-  Stimulasi yaitu metode penyampaian materi secara sepihak dari pemateri kepada peserta. stimulasi lebih menekankan pada penanaman semangat, motivasi, dan militansi kepada peserta.

 

3.1.3.2 Metode Andragogi

Metode andragogi adalah kebalikan dari materi paedagogi, yakni metode yang lebih menekankan pada pengembangan peserta secara lebih partisipatif dari instruktur atau pemateri kepada peserta maupun dari peserta kepada instruktur atau pemateri. metode andragogi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

-  Bersifat partisipatif

-  Menerapkan komunikasi 2 arah antara instruktur/pemateri dan peserta

Teknik yang diterapkan :

-  Diskusi yaitu seorang instruktur/pemateri menyampaikan pokok-pokok materi dihadapan peserta dan kemudian diteruskan dengan dialog dengan memperdalam materi, pada metode ini lebih ditekankan pada pemberian kesempatan kepada peserta untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum jelas, berbagi pendapat dengan perspektif yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh instruktur/pemateri ataupun mengkritisi materi yang diberikan.

-  Case study (study kasus) yaitu sebuah forum interaksi peserta mengenai kasus tertentu yang sesuai dengan pokok materi, caranya instruktur/pemateri mengambil contoh kasus yang sesuai dengan realitas kekinian kemudian peserta menganalisis dan mendiskusikannya.

-  Problem Solving (pemecahan masalah) yaitu forum membicarakan suatu masalah kemudian mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah.

-  Dinamika kelompok yaitu sebuah forum interaktif, dimana peserta terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan banyaknya topic pembahasan tertentu dengan didampingi oleh instruktur/pemateri.

-  Debat yaitu suatu proses pertukaran pikiran dengan metode adu argumentasi yang dilakukan individu maupun kelompok yang saling berbeda pendapat.

3.1.4 Instruktur/pemateri

Instruktur adalah seorang atau tim yang mempunyai wewenang yang telah diberi kepercayaan dari pengurus HUMANIS untuk menjadi pengantar pemateri dalam memberikan materi, mengelola sebuah forum Latihan kepemimpinan Administrasi Angkatan XVII HUMANIS FISIP UNHAS.

3.1.4.1 Fungsi dan Tugas Instruktur

Fungsi dan tugas Instruktur dalam setiap Program Pengkaderan adalah sebagai berikut:

  • Komunikator; Pada fungsi ini, Instruktur dituntut untuk senantiasa mendapat informasi yang maksimal, mulai dari pengadaan sumber informasi sampai dengan penyampaian informasi serta evaluasi.
  • Fasilitator; Pada fungsi ini, Instruktur lebih berperan sebagai penyedia sarana dan prasarana Latihan, baik yang bersifat lunak (software) maupun keras (hardware).
  • Inovator; Pada fungsi ini, Instruktur dituntut untuk mampu melakukan pengembangan informasi secara kreatif yang relevan dengan kebutuhan peserta, serta mampu memproyeksikan tantangan yang dihadapi peserta dalam proses Latihan.
  • Emansipator; Pada fungsi ini, Instruktur dituntut untuk mampu membawa peserta baik secara individu maupun kelompok pada tingkat perkembangan kepribadian yang proposional dalam proses pengkaderan.
  • Motivator; Pada fungsi ini, Instruktur dituntut untuk mampu memberikan rangsangan dan dorongan belajar, berfikir, bersikap dan bertindak terhadap peserta kearah yang lebih positif.
  • Dinamisator; Pada fungsi ini, Instruktur dituntut untuk mendominasikan suasana serta menangkap gejala program yang tidak kontekstual dengan tujuan yang ditetapkan
  • Organisator; Pada fungsi ini, Instruktur dituntut untuk mampu menjadi organisator yang baik, yakni mampu mengupayakan setiap individu ataupun kelompok melakukan fungsi dan perannya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
  • Evaluator; Pada fungsi ini, Instruktur dituntut untuk mampu memantau dan mengevaluasi kegiatan belajar peserta selama pelaksanaan Program Pengkaderan, dalam memperoleh keterangan tentang keberhasilan Program Pengkaderan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.


 

BAB V

PENUTUP

Term of Reference ( TOR ) Latihan Kepemimpinan Administrasi Angkatan XVII HUMANIS FISIP UNHAS ini merupakan panduan umum bagi pelaksanaan LKA yang berlaku di HUMANIS FISIP UNHAS.


 

TIM INSTRUKTUR

LATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINISITRASI ANGKATAN XVII

HUMANIS FISIP UNHAS

 

RIMAL (MASTER OF TRAINING)

NAZARUDDIN (VICE OF MASTER)

INSTRUKTUR:

ARDIANSYAH

NUR RIZKA AYUNINGSIH

INSTRUKTUR MUDA:

MUHAMMAD YUNUS

RIZAL PAUZI

MARSELINA MERLIN

NOVAYANTI SOPIA R.

SAMRATULANGI


About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Oktober 2011 by in Humanis.
%d blogger menyukai ini: