Rimal_Rimaru

Senang berbagi informasi

MEMETAKAN WACANA KEISLAMAN (Islam Emansipatoris)

Sebagaimana diketahui bahwa wacana (discourse), bagaimana menempatkan Islam dalam zaman yang terus mengalami pergerakan mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Ada beberapan labeling yang belakangan ini muncul ke permukaan, yakni Islam liberal dan Islam emansipatoris. Kemunculan nama-nama ini bukanlah sesuatu hal yang baru, karena sebelumnya juga sudah banyak tawaran yang muncul, antara lain Islam transformatif (Moeslim Abdurrahman), Islam Aktual (Jalaluddin Rahmat), dan beberapa nama lain. Inti dari semuanya adalah ingin menempatkan hubungan yang pas (viabel) antara Islam dengan dinamika yang terus berubah. Apalagi ketika ajaran Islam dibawa ke arah arus formalisme dan tekstualisme Islam. Sebagaimana kemunculan Islam Liberal yang mencoba merespon kecenderungan pemahaman Islam yang bersifat simbolik-tekstual, maka munculnya Islam emansipatoris juga membawa misi dan reasoning yang berbeda. Berikut ini merupakan elaborasi dari paper Masdar Farid Masúdi dalam sebuah seminar di PTAI yang mencoba merekam peta wacana ke Islam di Indonesia, beserta penjelasan tawaran Islam emansipatoris.

Seperti halnya Islib (Islam Liberal), Islam emansipatoris juga mencoba memetakan wacana keislaman yang ada. Sebagian ada semacam “titik temu” dengan wacana yang dipetakan oleh Islib, dan sebagian lagi tentu tidak. Kalau persis ketemu dari A sampai Z, namanya duplikasi. Islam emansipatoris memetakan wacana keislamana yang ada sebagai berikut:

Pertama, kelompok Islam Skriptualistik, tekstualistik, dan formalistik, yaitu Islam yang fokusnya atau titik mula dan titik akhirnya adalah teks. Teks berfungsi sebagai Alpha dan omeganya dan perananya adalah sentral: dari teks dan berakhir kepada teks. Sejarah Islam model ini panjang sekali. Bisa dikatakan bahwa dunia Islam ini adalah dunia skriptualis sehingga ada benarnya Nashr Hamid Abu Zaid mengatakan bahwa salah satu dari tiga peradaban adalah peradaban teks, yaitu peradaban yang dikuasai Islam. Realitas ini telah memancing wacana yang sangat kritis terhadap teks yang pada intinya ingin mendekonstruksikan teks itu sendiri. Wacana yang paling populer adalah wacana Mohammad Arkoun dan Al-Jabiri yang berguru pada ahli dekonstruksi barat.

Bagi orang seperti Arkoun, yang tidak hidup di dunia ketiga (negara berkembang) melainkan dunia pertama (Perancis), melihat masyarakat Islam atau masyarakat teks yang tidak maju dibandingkan masyarakat yang tidak mengenal teks (Islam) pastilah “gregetan”. Dalam benaknya muncul keyakinan adanya something wrong atau sebuah paradoks yang luar biasa seriusnya, yaitu masyarakat yang teksnya begitu suci dan diagungkan ternyata tidak maju, sebaliknya masyarakat yang tidak hidup di atas teks suci seperti barat ternyata bisa maju luar biasa. Kebetulan ada teori-teori dekonstruksi dari lingkungannya, sehingga pada akhirnya dia mengambil posisi dekonstruksi teks.

Ìni adalah pola keislaman yang begitu kuat. Kita semua cukup merasakan kegetiran pemikir seperti Arkoun dkk. Pertanyaannya adalah apakah dengan mengahncurkan otoritas teks itu lalu akan selesai, dan langsung naik kelas seperti orang barat yang tidak pernah merujuk pada teks? Ini merupakan pertanyaan yang kritis juga. Meskipun sebenarnya mengatakan masyarakat barat tidak pernah bertolak dari teks, tidak sepenuhnya benar, karena apa yang menjadi obsesi Derrida dan Foucault juga berangkat dari adanya dominasi teks juga. Namun demikian dominasi teks yang terjadi tidak sesakral dan se-hegemonik umat Islam sehingga dekonstruksi yang ditawarkan lebih memungkinkan, sedangkan tawaran yang sama pada umat Islam bisa jadi lebih sulit, kalau tidak boleh dikatakan mustahil.

Salah satu sebab penting dalam hal ini adalah kenyataan bahwa dunia Islam yang terbelakang atau pasca terjajah sedang tidak memiliki kebanggaan internal. Hampir tidak ada sesuatu yang patut dibanggakan. Dari sudut kemajuan ilmu atau politik misalnya, tidak ada sistem politik negara Islampun yang dapat dijadikan rujukan. Paling banter Malaysia, meskipun lebih baik dari lainnya, menurut kapasitasnya dia hanyalah the best of the west. Mungkin juga Irak memiliki kelebihan tertentu, tetapi lagi-lagi kelebihannya tak sebanding dengan kelebihan politik di luar Islam. Demikian juga dunia intelektual, seni dan kebudayaan juga sulit ditemukan. Lebih-lebih jika kita lihat pada aspek-aspek yang lebih sublim dari itu.

Nah, satu-satunya yang dibanggakan umat Islam adalah teksnya yang suci itu: Alqurán yang diakui sebagai satu-satunya teks yang otentik dari Tuhan, La yamassuhu illa al-muthahharun, bukan hanya oleh umat Islam tetapi juga oleh orientalis. Mereka mengakui Al-quran sebagai ke-ilahian dari Tuhan yang tidak dimiliki komunitas agama lain, baik komunitas injil, Zabur, mapun Taurat.

Jadi, satu-satunya yang bisa dibanggakan umat Islam hanyalah otentisitas teksnya yang suci itu. Kalau satu-satunya yang dibanggakan harus dihancurkan atau didekonstruksi, maka secara “psikologi” terlalu berat untuk ditanggung umat Islam, sehingga tak sadar seringkali orang menjadi fanatik terhadap teks dan sangat curiga terhadap orang yang ingin mempertanyakan teks. Inilah realitasnya. Langkah radikal terhadap teks yang begitu diagungkan seringkali membuat terpental dan tidak lagi didengarkan umat. Ini problem psikologis umat yang susah dibongkar meskipun dengan olok-olok yang teramat sangat.

Apa yang ditawarkan Arkoun dan pemikir yang se-arus dengannnya menjadi tidak begitu bermanfaat sebagai pemicu perumusan masa depan. Apa yang ditawarkan Ahmad Khalafullah lebih menjanjikan karena lebih empatik. Dekonstruksi yang dilakukannya tidak diarahkan pada teks itu sendiri melainkan pada teori dan metodologi lama, disertai metode baru dan aplikasinya pada teks. Langkah ini lebih positif dan menjajnjikan. Sehingga upaya yang lebih strategis didekonstruksi adalah metodologi, bukan teks itu sendiri.

Problem yang lebih serius dalam wacana Islam skripturalsitik, tekstualistik dan formalistik adalah bahwa teks yang mejadi pijakan tidak hanya teks primer (Al-Quran) tapi juga teks sekunder (al Hadits) dan teks tersier turut tersakralisasi. Dekonstruksi pada sakralitas teks yang berlapis-lapis ini menjadi penting dilakukan. Dalam komunitas pesantren atau NU misalnya, otoritas teks yang dihayati sesungguhnya bukanlah teks primer ataupun sekunder, tapi tertier. Ini bisa dilihat dari jantungnya fiqh: Bahtsul masail. Standar kebenaran tidak dicari pada teks dengan otoritas tinggi seperti Al-quran, Hadits atau Madzhab Empat, tapi pada otoritas ulama pada tingkatan yang paling rendah yaitu ashhab muttafaqálaihi wa al-rafií.

Contoh mutakhirnya adalah bahtsul masail pada pra Munas 25-28 Juni 2002 lalu. Masalah-masalah yang diangkat pada saat itu adalah masalah-masalah ashriyah (kontemporer) yang tidak ada rujukannnya di kitab kuning seperti hutang negara, korupsi dan money politic. Karena persoalan-persoalan ini tidak dibahas dalam rujukan standar (al-kutub al-mu’tabarah), sebagian peserta mengusulkan untuk tidak dibahas. Persoalan seperti ini jelas tidak bisa dirujuk dalam qaul, tapi dalam manhaj. Akhirnya harus ada keberanian untuk mentolerir rujukan kitab yang putih (bukan kitab kuning). Money politic apakah harus dikembalikan pada negara atau bagaimana? Menurut Kiai Sahal, uang ini adalah uang hilang (luqathah) sehingga harus dikembalikan pada pemiliknya. Kalau kita terbatas hanya pada teks atau qaul sebenarnya kita telah menutupi diri pada falsafah al-hukm. Ketika kita “terbelenggu” pada teks partikular, bukan berarti seluruh teks menjadi tidak absah. Tapi kalau kita terbelenggu pada teks partikular dan kita ingin membebaskan diri darinya, rupanya kita kembali kepada teks yang fundamental. Ini beberapa pilihan dalam proses pembebasan diri dari teks.

Kedua, Islam Ideologis. Yaitu Islam yang berangkat tidak dari memuja teks tapi dari pilihan kebenaran yang diideologikan. Teks menjadi sekunder dan yang primer adalah ideologinya. Pola Islam ini menggunakan teks sebagai pembenaran, legitimasi, dan justifikasi. Biasanya sikap ideologis ini pemicunya adalah kepentingan kekuasaan sehingga subur dalam wacana politik. Kalau kita runut sejarahnya adalah sekte-sekte Islam seperti Syiah, Khawarij, dan status quo Sunni. Sikapnya menjadi Fundamental. Barangakali dalam konteks sekarang adalah barat yang diidentifikasikan sebagai kristen. Islam Fundamentalis ada disini dalam konteks ideologis.

Ketiga, Islam modernis. Visi modernisme dalam Islam adalah bagaimana kita melakukan rekonsiliasi teologis terhadap realitas modern. Modernitas adalah fakta yang given. Islam fundamental berpusat pada kebenaran ideologis, sedangkan Islam modernis berpusat pada kebenaran yang didefinisikan orang lain. Ini kelompok dominan yang menjadi pemilik kebenaran. Islam modernis adalah Islam yang sedang melakukan justifikasi dan peneyusaian teologis (islah) terhadap fakta-fakta kemodernan. Inilah realitas sesungguhnya, yang mana seorang muslim tidak bisa lari dan hanya bisa melakukan penyesuaian-penyesuaian. Karena itu, isu Islam modernis adalah isu-isu modernisme itu sendiri, sedangkan musuhnya dalah siapa saja yang melawan realitas dominan itu sendiri.

Ketiga kelompok Islam ini tidak berbeda yakni tidak memberikan Liberation, bahkan kadang-kadang Islam Modernis memeperlakukan Islam Fundamentalis persis sama dengan tindakan Islam Fundamentalis itu sendiri. Pilihannnya hanya menghancurkan. Adapun Islam Ideologis yang muncul dengan isu Barat-Islam, Palestina, Osama bin Laden sebagai justifikasinya, adalah kelompok-kelompok radikal dan kelompok lemah yang terpinggirkan yang tidak bisa menyelamatkan eksistensi diri kecuali hanya dengan cara radikal. Tidak mungki orang begitu radikal jika tidak ada persoalan yang begitu serius. Pertanyaannya adalah kenapa kelompok dominan tidak berupaya berempati dengan kelompok pinggiran?rasa empati inilah yang tidak dimiliki teologi dominan sehingga tidak ada ruang untuk pemeberian maaf dan dialog.

Ketika umat Islam berada dalam problem ketidak berdayaan dan keterbelakangan yang total, maka hanya satu yang dibanggakan, yaitu teks suci itu. Pilihannnya adalah apakah teks harus ditinggalkan atau bagaimana? Bukankah orang lain bisa bangkit tanpa teks, walaupun sebenarnya modernisme baratpun sebenarnya merujuk pada teks-teks Yunani Kuno sebagai acuan penegmbangan dan penyesuainnya. Dan seorang muslim jelas tidak bisa go to hell begitu saja, karena dengan meninggalkan teks beraqrti a historis.

Pilihan yang diambil dengan pemetaan yang ada adalah istilah yang disebut Emansipatoris. Pada perspektif dasarnya emansipatoris ini tidak bisa lepas dari sejarah teori kritis, yang mana rujukannya ada beberapa macam dari aliran sangat kiri, kiri dalam, dan kiri luar, sehingga disebut Islam Kritis. Kritis di sini bukan berarti bertanya terus atau rengkel.

Kritisisme ada dua elemen. Pertama : realitas material, sebuah pemikiran yang mempertanyakan ideologi hegemonik yang bertolak pada kehidupan riil dan materiil atau mempertanyakan hegemoni bertolak pada realitas empirik. Kedua, Visi transformatif, memiliki komitmen pada perubahan struktur (relasi-relasi), baik relasi kekuasaan dalam dunia produktif (majikan-buruh), maupun relasi hegemonik dalam hubungan pemberi dan penerima narasi (ulama-umat)., maupun relasi politik(penguasa-rakyat).

Berbeda dengan paradigma Islam lainnya, titik tolak Islam Emansipatoris adalah problem kemanusiaan, bukan teks suci (teks-ide) sebagaimana Islam skriptualis, ideologis, maupun modernis. Teks-teks suci disini sub-ordinat terhadap pesan moral, etik ataupun spritual, sehingga ia tidak dipahami sebagai undang-undang, melainkan sebagai sinar pembebasan. Pada teoritisasi perubahan, watak transformatif Islam emansipatoris akan didefinisikan sebagai landasan bagi misi Islam Emansipatoris berupa aksi pembebasan. Dan aksi ini tentu akan diterapkan pada problem kemanusiaan yang riil tadi. Memang secara integral, Islam Emansipatoris tidak akan berhenti pada dekonstruksi dan pembongkaran teks yang membuat kita linglung, tapi teks dijadikan sebagai wahana pembebasan. Karena realitas dominasi tidak hanya wacana, melainkan juga dominasi yang bersifat riil dan materiil.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 Oktober 2011 by in Tak Berkategori.
%d blogger menyukai ini: